Pages

Wednesday, February 13, 2008

Tidak Bermutunya "Kawin Kontrak"

Hei ngomong-ngomong soal film Indonesia dan sensor-menyensor, gw jadi inget film yang gw tonton minggu lalu. Waktu itu ceritanya gw kejebak hujan di Bogor tepatnya hujan hari jumat 1 feb yang turun all day long. So, I decide to watch a movie in theatre nearby. Tadinya pengen nonton film Otomatis Romantis-nya Tukul and Tora, ternyata tayangnya malam jam7 sedangkan gw disitu jam 12.30 siang. Diantara film yang tayang gw menjatuhkan pilihan pada Kawin Kontrak. Secara film ini salah satu yang gw hina-hina banget trailernya, so I decide to give it a decent chance.

After beli tiket dan duduk manis di dalam, gw mengedarkan pandangan ke sekitar. Wow...sebagian besar anak SMA malah ada 4 orang anak SMP yang duduk dibarisan gw. Dari trailernya di tipi harusnya udah ketauan genrenya ni film (atau belum?). Salah satu kelemahan bioskop di Bogor, petugasnya cenderung gak peduli ama pembatasan usia viewer. Di ruangan gw aja, kayanya cuma ada 6 orang (include me) yang kelihatan pantes nonton film ini.

OK, back to the topic.... Filmnya ternyata menceritakan tentang 3 (tiga) orang sahabat yang baru lulus SMA dan semuanya punya odd behaviour menurut gw (maniak seks, masokis dan over PD). Secara garis besar, film ini isinya tentang seks, seks dan seks...al about sex!! Seks dijual dalam bentuk film drama kacangan dan komedi murahan. Cerita tentang kawin kontrak di Puncak jadi gak punya meaning bgt di film ini. Entah skenario yang murahan atau pemain-pemainnya yang kacangan, pokoknya kisah kawin kontrak di Puncak jadi sekedar cerita biasa.

Film ini adalah film yang begitu dangkal dari segi cerita, kosong dari segi penyampaian dan datar dari segi alur cerita. Jadinya gw dengan sukses tertidur di tengah-tengah cerita ditayangkan. Ajaib...this is the first time I fall a sleep in a movie. Setengah film gw tidur dengan sukses, terbangun di akhir film dan merasa tidak kehilangan cerita sama sekali. Asli, ni film jelek bgt dah!! Kl di Hollywood kelasnya bukan B lagi, malah kalau bisa D kali.

Upaya menghidupkan kembali perfilman Indonesia kurang dilaksanakan secara serius oleh sebagian besar para pembuat film. Sebagian besar film Indonesia tidak punya makna atau pesan-pesan positif. Film yang seharusnya memberi pencerahan dan pembelajaran pada masyarakat, sebaliknya malah kebanyakan terjebak di eksploitasi seksual dan pembodohan pemikiran. Semoga kedepannya film Indonesia yang dibuat semakin bermakna dan memiliki keseimbangan dari segi hiburan dan pembelajaran.

Regards,
090208
Eny Widiya

0 comments: